Maraknya kekerasan dalam Rumah Tangga Akibat Pranata Sosial Masyarakat yang Rapuh

Oleh: Apdal (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional Jakarta)

Dalam pandangan sosiologis, keluarga merupakan salah satu institusi sosial yang ada dalam masyarakat. Keluarga dianggap institusi sosial karena punya orientasi atau tujuan yang jelas serta norma dan nilai yang mengitarinya agar tujuan tersebut bisa tercapai.

Salah satu tujuan dari institusi keluarga adalah sebagai tempat memperoleh rasa kasih sayang, rasa aman, rasa empati, memperoleh pendidikan dan tempat sosialisasi awal bagi individu untuk mengenali nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat, keluarga juga merupakan tempat memperoleh pemenuhan ekonomi.

Sehingga peran keluarga sebagai salah satu institusi sosial dianggap sangat penting bagi setiap individu dalam masyarakat, karena setiap individu yang ada dalam masyarakat merupakan individu yang berasal dari institusi keluarga.

Begitu pentingnya keluarga sebagai basis untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan tersebut, rasanya hari ini mulai pudar, bangunan keluarga yang seharusnya tempat kokoh untuk mendapatkan kebutuhan basic sebagai seorang individu untuk menjalani kehidupannya di dunia ini tidak lagi begitu berperan.

Justru hari ini di beberapa kasus menunjukkan fakta terbalik, yaitu keluarga menjadi ruang yang tak lagi aman, seperti maraknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang biasanya menimpa seorang istri dan juga anak, kemudian kejadian penelantaran anak, bahkan saat ini dibeberapa kejadian ada juga peristiwa penganiayaan anak terhadap orang tua.

Memang banyak variabel yang menyebabkan sebuah keluarga mengalami disorientasi dan mengalami instabilitas, seperti faktor pendidikan,lingkungan, ekonomi, budaya dan seterusnya. Artinya bahwa ada institusi lain yang ikut mempengaruhi jalannya sebuah keluarga, institusi tersebut turut mempengaruhi keberlangsungan sebuah keluarga, makanya sebuah keluarga tidak serta merta hanya dilihat dari sudut pandang keluarga itu sendiri.

Peranan dari institusi atau pranata sosial lain sangat berpengaruh, terutama kehadiran lingkungan masyarakat yang simpatik cukup membantu institusi keluarga menjadi bangunan keluarga yang kokoh. Namun kalau lingkungan masyarakat sekitar cenderung cuek dan justru selalu bersikap yang cenderung melahirkan stigmatisasi terhadap keluarga tertentu maka ini bisa menjadi pemicu atau menambah disorientasi dan instabilitas terhadap satu keluarga tersebut, latar belakang pendidikan juga cukup berpengaruh baik itu pendidikan formal maupun informal bagi setiap anggota dalam setiap keluarga khususnya seorang suami maupun istri yang sekaligus berperan sebagai orang tua.

Kurangnya bekal pendidikan merupakan variabel yang cukup berpengaruh, dalam dunia saat ini kita memasuki sebuah erah baru yang biasa disebut sebagai erah disruption dimana arus perubahan dalam kehidupan sehari-hari begitu cepat terjadi baik itu di bidang teknologi, ekonomi, politik, budaya dan norma. Perubahan yang begitu cepat dalam segala hal, turut berpengaruh terhadap kehidupan keluarga.

Menghadapi problem tersebut membuat pentingnya bekal pendidikan keluarga atau biasanya disebut sebagai pendidikan parenting, pendidikan parenting itu memuat materi-materi spritual, psikologis, sosiologis dan ekonomi sebagai bekal dalam menjalani kehidupan keluarga.

Zaman dulu pendidikan parenting itu biasanya secara natural diwarisi dari para orang tua yang sifatnya sederhana, seperti pesan-pesan atau wejangan dalam mengarungi kehidupan keluarga. Namun dierah yang serba disruptif ini, memang banyak komponen yang harus dipersiapkan karena hidup tak sesederhana seperti beberapa tahun silam.

Olehnya itu keterlibatan semua pihak sangat diperlukan untuk menata kembali pranata sosial masyarakat khususnya institusi keluarga agar bisa menjadi benteng yang kokoh bagi individu untuk menjalani kehidupannya,

khusunya pemerintah yang selama ini punya program khusus untuk keluarga yaitu program Keluarga Berencana (KB) yang kebanyakan hanya fokus pada pembinaan kesehatan fisik keluarga, pemerintah seharusnya memformulasikan ulang program tersebut agar sesuai dengan tantangan yang dihadapi institusi keluarga saat ini.

Contoh kecilnya yang bisa diprogramkan oleh pemerintah adalah penyuluhan, pembinaan, serta pendampingan yang intens terhadap setiap keluarga khususnya pendidikan parenting. Hal lain juga yang bisa ditempu adalah bagaimana menata kembali lingkungam masyarakat yang simpatik serta menjadi problem solver setiap permasalahan yang dihadapi oleh setiap keluarga dalam lingkungan masyarakatnya.

Pemerintah harus bisa melibatkan semua komponen masyarakat serta stakeholder yang ada untuk bahu membahu menciptakan keluarga yang setiap anggota keluarganya sehat fisiknya dan juga jiwanya, keluarga merupakan komponen utama sebagai ketahanan nasional, karena keluarga merupakan sistem mikro yang mempengaruhi sistem yang lebih besar seperti lingkungan masyarakat sampai bangsa dan negara.

Untuk itulah tanggung jawab dan kewajiban negara untuk hadir dalam setiap problem pelik yang dihadapi rakyatnya khususnya perhatian penuh pada penguatan institusi keluarga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *